KONGRES III DAN SEMINAR NASIONAL ASOSIASI PROFESOR INDONESIA: PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PILAR KEDAULATAN PANGAN DAN ENERGI NASIONAL
Cianjur, 12–13 Juni 2026 Asosiasi Profesor Indonesia (API) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional dan Kongres III pada 12–13 Juni 2026 di Cianjur, Jawa Barat. Rangkaian kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 500 peserta dari seluruh Indonesia dan diselenggarakan secara hybrid, menggabungkan kehadiran langsung dan partisipasi daring.
Seminar Nasional: Perguruan Tinggi untuk Kedaulatan Pangan dan Energi
Seminar Nasional yang berlangsung pada 12 Juni 2026 Kegiatan ini mengusung tema besar: "Peningkatan Peran Strategis Profesor dalam Menjaga Integritas Akademik dan Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Energi Nasional yang Berkelanjutan." Pemilihan UG Technopark sebagai venue tidak bersifat kebetulan — kawasan inovasi dan teknologi milik Universitas Gunadarma ini menjadi simbol nyata semangat akademik yang ingin diwujudkan dalam kongres tersebut.
Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. E.S. Margianti, S.E., M.M., Ketua Dewan Penasehat API sekaligus Rektor Universitas Gunadarma selaku tuan rumah. Dalam arahannya, Prof. Margianti menegaskan bahwa kemajuan bangsa harus ditopang oleh dua pilar utama: moralitas akademik yang kokoh serta kemandirian di sektor-sektor vital. Ia menyerukan agar pemikiran yang lahir dari forum ini tidak berhenti di ruang sidang, melainkan mewujud menjadi rekomendasi kebijakan nyata bagi pemerintah.Seminar Nasional yang berlangsung pada 12 Juni 2026 menghadirkan tiga tokoh utama dari kalangan pemerintah dan lembaga riset nasional.
Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, hadir sebagai keynote speaker dan memaparkan blueprint perencanaan pembangunan kedaulatan pangan dan energi nasional. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa pangan dan energi merupakan prioritas nasional yang termaktub dalam RPJMN 2025–2029 dan RPJPN 2025–2045 dalam kerangka Visi Indonesia Emas 2045. Pendekatan terpadu melalui FEW Nexus (Food, Energy, Water) menjadi kerangka utama yang didorong pemerintah, dengan target porsi energi baru terbarukan mencapai 70% pada 2045 dan swasembada pangan yang berkelanjutan berbasis lumbung pangan nasional.
Prof. Desrial, Staf Ahli Menteri Pertanian, turut memperkaya diskusi dengan perspektif dari sisi kebijakan sektor pertanian, menyoroti tantangan regenerasi petani, modernisasi pertanian, serta pentingnya kolaborasi antara kementerian teknis dan dunia riset perguruan tinggi dalam mendorong inovasi yang langsung menyentuh kebutuhan lapangan.
Sementara itu, Prof. Mukhammad Najib, Direktur Kelembagaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), menegaskan bahwa perguruan tinggi Indonesia kini didorong untuk bertransformasi menjadi pusat inovasi, talenta, dan solusi bagi persoalan bangsa. Ia menyampaikan bahwa saat ini terdapat lebih dari 1.700 program studi terkait pangan dan hampir 700 program studi terkait energi yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan total mahasiswa yang mencapai ratusan ribu.
Namun demikian, tantangan utama yang harus diselesaikan adalah lemahnya hilirisasi riset, terbatasnya kolaborasi lintas disiplin, serta belum optimalnya kelembagaan inovasi di kampus. Beliau mendorong konsep Tridarma yang dimaknai ulang — bukan sekadar menghasilkan sarjana dan publikasi, melainkan melahirkan inovator, technopreneur, kebijakan berbasis bukti, dan transformasi sosial nyata di masyarakat.Para peserta seminar menyambut antusias seluruh paparan dan mendorong API untuk menjadi jembatan strategis antara komunitas akademik dengan pemerintah dalam merumuskan kebijakan berbasis bukti ilmiah.
Kongres III: Perkuat Organisasi, Perbarui Arah Gerak
Pada 13 Juni 2026, API menyelenggarakan Kongres III yang menjadi momen penting dalam perjalanan organisasi. Kongres menghasilkan sejumlah keputusan dan dokumen strategis yang akan memandu API dalam lima tahun ke depan.Kongres secara resmi menetapkan Prof. Ari Purbayanto sebagai Ketua Umum API yang baru, melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan organisasi yang mewadahi para profesor dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Selain pemilihan ketua umum, kongres juga mengesahkan dokumen Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang telah diperbarui, menetapkan rencana program kerja prioritas, serta merumuskan resolusi dan kesimpulan kongres sebagai pernyataan sikap dan arah kebijakan API ke depan.
Delapan Rekomendasi Strategis untuk Bangsa
Salah satu capaian terpenting dari Kongres ke-3 API adalah lahirnya delapan rekomendasi strategis yang ditujukan kepada pemerintah, legislatif, industri, dan seluruh pemangku kepentingan nasional.
Pertama, penguatan kelembagaan dan tata kelola API, termasuk modernisasi sistem organisasi berbasis prinsip good governance dan target peningkatan keanggotaan dari 303 profesor menjadi minimal 1.000 profesor aktif pada akhir periode 2026–2030 melalui rekrutmen terstruktur ke seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Kedua, peningkatan peran strategis API dalam advokasi kebijakan nasional, dengan menetapkan mekanisme formal komunikasi antara API dan kementerian/lembaga strategis, menerbitkan White Paper dan Policy Brief secara berkala, serta mengembangkan platform Pojok Akademik API sebagai ruang publik penyebarluasan pemikiran para profesor. Ketiga, kontribusi profesor dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional, mencakup pembangunan Repositori Pengetahuan Pangan Nasional, dorongan peningkatan anggaran riset pangan hingga minimal 1% dari PDB, dan peran aktif profesor sebagai pendamping teknologi bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal. Keempat, kontribusi profesor dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan energi nasional, antara lain melalui pembentukan Konsorsium Riset Energi Berkelanjutan lintas perguruan tinggi yang bekerja sama dengan BRIN dan Kementerian ESDM, serta pendampingan percepatan transisi energi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Kelima, penguatan sistem pendidikan tinggi dan ekosistem riset nasional, dengan mendorong peningkatan investasi nasional untuk riset dan pengembangan minimal 1,5% dari PDB, penguatan otonomi perguruan tinggi, serta penghapusan hambatan birokratis yang menghambat produktivitas akademik. Keenam, penguatan peran profesor dalam transformasi digital dan penguasaan teknologi, termasuk riset dan penerapan kecerdasan buatan, big data, dan Internet of Things untuk sektor-sektor strategis, serta mendorong pemerintah merumuskan regulasi etika AI yang komprehensif dengan melibatkan para profesor sebagai pakar. Ketujuh, kontribusi profesor dalam pembangunan karakter bangsa dan kebudayaan, melalui pengintegrasian nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal secara substantif dalam kurikulum perguruan tinggi, serta penguatan riset dan dokumentasi kebudayaan lokal sebagai bagian dari Tridarma. Kedelapan, penguatan kolaborasi API dalam jaringan akademik nasional dan internasional, mencakup kemitraan strategis dengan asosiasi profesor di tingkat ASEAN dan global, penerbitan jurnal ilmiah API yang terindeks internasional, serta penyelenggaraan forum akademik tahunan bertaraf internasional.
Komitmen API untuk Indonesia
Berdiri sejak 23 Februari 2007 dan berkedudukan di Jakarta, API telah memasuki usianya yang ke-19 tahun. Dengan keanggotaan saat ini sejumlah 303 profesor yang tersebar di seluruh Indonesia, API hadir sebagai wadah kolaborasi, komunikasi, dan sinergi antar profesor lintas disiplin ilmu dan institusi. Melalui Kongres ke-3 ini, API menegaskan posisinya bukan sekadar organisasi profesi administratif, melainkan sebagai think-tank nasional, mitra strategis pemerintah dalam perumusan kebijakan berbasis bukti ilmiah, sekaligus penjaga integritas akademik di tengah arus disrupsi global. Sebagaimana ditegaskan dalam semangat kongres, bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kemandirian — dan para profesor Indonesia memegang amanah sejarah sebagai penjaga masa depan peradaban bangsa. API berharap momentum Kongres III dan Seminar Nasional ini menjadi titik tolak penguatan sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat demi Indonesia yang lebih berdaulat, inovatif, dan sejahtera.
